Jakarta, Salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji adalah melontar jumroh. Ibadah ini dilakukan dengan cara melempar batu kerikil ke arah jumroh sughra, wustha, maupun kubra (aqabah) hingga kerikil itu masuk ke area sasaran lemparan (marma).
Lontar jumroh termasuk amalan wajib yang harus dilaksanakan oleh para jamaah haji. Dan karena kedudukannya sebagai kewajiban haji, maka jamaah yang meninggalkan lontar jumroh wajib membayar dam atau fidyah sebagai gantinya. Karena itu, setiap jamaah perlu memahami tata cara pelaksanaannya agar manasik haji dapat dijalankan secara sempurna sesuai tuntunan syariat.
Pada dasarnya, lontar jumroh terbagi menjadi dua jenis. Pertama, lontar jumroh aqabah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Kedua, lontar tiga jumroh—sughra, wustha, kubra (aqabah)—pada hari-hari Tasyriq, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Masing-masing dilakukan dengan tujuh butir kerikil.
Syekh Zainuddin al-Malibari (wafat 987 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa jumroh aqabah dapat dilakukan setelah pertengahan malam hari Nahr (Hari Raya Idul Adha) sebanyak tujuh kali lemparan. Adapun pada hari-hari Tasyriq, jamaah melempar tiga jumroh secara berurutan setelah tergelincirnya matahari, masing-masing tujuh lemparan.
Ditegaskan pula bahwa apabila seseorang meninggalkan lontaran pada suatu hari, maka ia masih mungkin menggantinya pada sisa hari-hari Tasyriq. Namun, jika hingga akhir hari Tasyriq tidak dilaksanakan, maka ia berkewajiban membayar dam.
وَرَمْيٌ إِلَى جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ بَعْدَ انْتِصَافِ لَيْلَةِ النَّحْرِ سَبْعًا، وَإِلَى الْجَمَرَاتِ الثَّلَاثِ بَعْدَ زَوَالِ كُلِّ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ سَبْعًا سَبْعًا، مَعَ تَرْتِيبٍ بَيْنَ الْجَمَرَاتِ بِحَجَرٍ... وَلَوْ تَرَكَ رَمْيَ يَوْمٍ تَدَارَكَهُ فِي بَاقِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، وَإِلَّا لَزِمَهُ دَمٌ بِتَرْكِ ثَلَاثِ رَمَيَاتٍ فَأَكْثَرَ
“Dan jamaah diharuskan melempar Jamarah Aqabah setelah pertengahan malam hari Nahr sebanyak tujuh kali lemparan, serta melempar tiga jumroh pada setiap hari Tasyrik usai tergelincirnya matahari, masing-masing tujuh lemparan dengan menjaga urutan antar jumroh menggunakan batu kerikil. Apabila seseorang meninggalkan lemparan pada suatu hari, maka ia dapat menggantinya pada sisa hari-hari Tasyriq. Jika tidak, maka ia berkewajiban membayar dam jika meninggalkan tiga lemparan atau lebih.” (Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain [Beirut: Dar Ibn Hazm], vol. 1, h. 294)










